Minggu, 23 Desember 2012

Pertumbuhan dan Pola Reproduksi Ikan Bada

Resume jurnal tentang pola natalitas pada 1 contoh jenis ikan untuk tugas biologi perikanan
 


Ikan Rasbora argyrotaenia di daerah Purworejo, Jawa Tengah sering disebut dengan ikan lunjar. Ikan lunjar ini biasa hidup di sawah atau saluran irigasi. Masyarakat sering menangkap ikan ini untuk dijadikan lauk pauk penambah protein keluarga. Ukurannya yang kecil sering membuat ikan ini digunakan sebagai bahan baku rempeyek, pepes, ataupun "pelas". Penyebaran ikan ini hampir merata di seluruh wilayah Indonesia, jadi nama daerah untuk ikan ini juga beragam. Warna perak mengkilap yang dimiliki membuat ikan ini berpotensi menjadi ikan hias. Selain ditemukan di sawah, di kawasan Danau Maninjau juga ditemui ikan yang sama namun pada masyarakat sekitar menyebutnya ikan bada. Ikan ini hidup secara bergerombol dan banyak ditemui di habitat bebatuan maupun di daerah yang terdapat akar-akar pohon yang menjorok ke dalam danau.



          Data produksi perikanan perairan umum D. Maninjau pada tahun 2003 mencapai 111,7 ton/tahun,sedangkan pada tahun 2004 hanya sebesar 95,8 ton/tahun. Tampak jelas bahwa telah terjadi penurunan produksi perikanan yang cukup besar, yang mencapai sekitar 14% (Triyanto et.al., dalam S.Said, et al., 2010). Penurunan produksi ikan secara umum di atas bisa menggambarkan bahwa secara tidak langsung ikan bada juga mengalami penurunan produksi. Kestabilan ekosistem juga akan terganggu dengan adanya penurunan ini. Upaya konservasi secara in-situ dilakukan untuk mencegah kepunahan ikan bada, namun sistem ini masih menggantungkan pada kondisi perairan danau. Pengembangan konservasi secara ex-situ dengan perlakuan tertentu perlu dilakukan untuk mempercepat produksi sehingga memenuhi kebutuhan ekonomi masyarakat nelayan. Menurut Triyanto et al., dalam S.Said, et al., 2010, uji coba pembenihan ikan bada pada tahap awal telah berhasil dilakukan di luar habitat alaminya. Namun untuk mengembangkan produksi masal diperlukan teknik- teknik budidaya agar didapatkan perkembangan yang cepat dan bibit ikan yang berkualitas baik.
S.Said, et al., 2010 mengatakan bahwa, rasio kelamin merupakan salah satu metoda yang dapat diterapkan untuk pengembangan secara ex-situ pada jenis-jenis ikan yang hidup bergerombol dan dengan cara ini dapat diketahui kemampuan induk ikan jantan untuk membuahi induk betina sehingga diperoleh larva yang optimal. Penelitian yang dilakukan Djamhuriyah S.Said ini bertujuan untuk mendapatkan rasio kelamin terbaik ikan R. argyrotaenia dalam memperoleh larva ikan yang optimal, dengan mengambil parameter viabilitas reproduksi yaitu, menggunakan empat perlakuan rasio kelamin yang berbeda yaitu rasio (:) = 1:1; 2:1; 3:1; dan 4:1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan bada mempunyai rasio kelamin untuk untuk bereproduksi yang berbeda dari ikan bergerombol lain. Allen dalam S.Said, et al., 2010, bahwa ikan yang memiliki sifat bergerombol (scholling fish) cenderung memiliki komposisi jumlah individu jantan yang lebih rendah daripada individu betina seperti halnya pada ikan pelangi. Ikan bada tidak melakukan pemijahan dengan komposisi individu jantan lebih sedikit. Pemasangan ikan secara masal lebih efektif dalam menghasilkan larva ikan bada, sedangkan pemasangan secara individual malah membuat ikan saling bertengkar. Derajat pembuahan (FR) yang tertinggi didapatkan pada perlakuan rasio kelamin 3:1 yaitu sebesar 98,14%. Derajat penetasan (HR) yang tertinggi diperoleh pada rasio kelamin 2:1 (60,61%) sedangkan yang terendah teramati pada rasio kelamin 4:1 ( 41,20%). Derajat pembuahan menurut S.Said, et al., 2004 adalah prosentase jumlah larva yang dihasilkan terhadap jumlah telur hidup dalam satu periode penetasan,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar