Resume
jurnal tentang pola natalitas pada 1 contoh jenis ikan untuk tugas biologi
perikanan
PERTUMBUHAN DAN
POLA REPRODUKSI IKAN BADA Rasbora argyrotaenia PADA RASIO KELAMIN YANG
BERBEDA Djamhuriyah S.Said, et al., (2010)17 (2) : 201
Ikan
Rasbora argyrotaenia di daerah Purworejo, Jawa Tengah sering disebut dengan
ikan lunjar. Ikan lunjar ini biasa hidup di sawah atau saluran irigasi.
Masyarakat sering menangkap ikan ini untuk dijadikan lauk pauk penambah protein
keluarga. Ukurannya yang kecil sering membuat ikan ini digunakan sebagai bahan
baku rempeyek, pepes, ataupun "pelas". Penyebaran ikan ini hampir
merata di seluruh wilayah Indonesia, jadi nama daerah untuk ikan ini juga
beragam. Warna perak mengkilap yang dimiliki membuat ikan ini berpotensi
menjadi ikan hias. Selain ditemukan di sawah, di kawasan Danau Maninjau juga
ditemui ikan yang sama namun pada masyarakat sekitar menyebutnya ikan bada.
Ikan ini hidup secara bergerombol dan banyak ditemui di habitat bebatuan maupun
di daerah yang terdapat akar-akar pohon yang menjorok ke dalam danau.
Data
produksi perikanan perairan umum D. Maninjau pada tahun 2003 mencapai 111,7 ton/tahun,sedangkan
pada tahun 2004 hanya sebesar 95,8 ton/tahun. Tampak jelas bahwa telah terjadi
penurunan produksi perikanan yang cukup besar, yang mencapai sekitar 14%
(Triyanto et.al., dalam S.Said, et al., 2010). Penurunan
produksi ikan secara umum di atas bisa menggambarkan bahwa secara tidak
langsung ikan bada juga mengalami penurunan produksi. Kestabilan ekosistem juga
akan terganggu dengan adanya penurunan ini. Upaya konservasi secara in-situ
dilakukan untuk mencegah kepunahan ikan bada, namun sistem ini masih
menggantungkan pada kondisi perairan danau. Pengembangan konservasi secara ex-situ
dengan perlakuan tertentu perlu dilakukan untuk mempercepat produksi sehingga
memenuhi kebutuhan ekonomi masyarakat nelayan. Menurut Triyanto et al., dalam
S.Said, et al., 2010, uji coba pembenihan ikan bada pada tahap awal
telah berhasil dilakukan di luar habitat alaminya. Namun untuk mengembangkan
produksi masal diperlukan teknik- teknik budidaya agar didapatkan perkembangan
yang cepat dan bibit ikan yang berkualitas baik.
S.Said, et al., 2010
mengatakan bahwa, rasio kelamin merupakan salah satu metoda yang dapat
diterapkan untuk pengembangan secara ex-situ pada jenis-jenis ikan yang
hidup bergerombol dan dengan cara ini dapat diketahui kemampuan induk ikan
jantan untuk membuahi induk betina sehingga diperoleh larva yang optimal.
Penelitian yang dilakukan Djamhuriyah S.Said ini bertujuan untuk mendapatkan
rasio kelamin terbaik ikan R. argyrotaenia dalam memperoleh larva ikan
yang optimal, dengan mengambil parameter viabilitas reproduksi yaitu,
menggunakan empat perlakuan rasio kelamin yang berbeda yaitu rasio (♂:♀)
= 1:1; 2:1; 3:1; dan 4:1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan bada mempunyai
rasio kelamin untuk untuk bereproduksi yang berbeda dari ikan bergerombol lain.
Allen dalam S.Said, et al., 2010, bahwa ikan yang memiliki sifat
bergerombol (scholling fish) cenderung memiliki komposisi jumlah individu
jantan yang lebih rendah daripada individu betina seperti halnya pada ikan pelangi.
Ikan bada tidak melakukan pemijahan dengan komposisi individu jantan lebih
sedikit. Pemasangan ikan secara masal lebih efektif dalam menghasilkan larva
ikan bada, sedangkan pemasangan secara individual malah membuat ikan saling
bertengkar. Derajat pembuahan (FR) yang tertinggi didapatkan pada perlakuan
rasio kelamin 3:1 yaitu sebesar 98,14%. Derajat penetasan (HR) yang tertinggi
diperoleh pada rasio kelamin 2:1 (60,61%) sedangkan yang terendah teramati pada
rasio kelamin 4:1 ( 41,20%). Derajat pembuahan menurut S.Said, et al., 2004 adalah prosentase jumlah larva yang
dihasilkan terhadap jumlah telur hidup dalam satu periode penetasan,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar